cenglu poster 1

CENGLU
Sublimasi Kesadaran Diri

Tiga perupa muda bergandengan dalam kesadaran estetik memaknai kesedihan, kegamangan, dan penderitaan ‘rasa’ atas esensi kehidupan sebagian besar meliputi kekaryaan mereka. M. Fikri Muaz dan I Kadek Yudi Astawan aka Koyo mengungkapkan dilema yang dialami dalam latar budaya, kerusakan alam dan pertumbuhan sosial ekonomi di sekitarnya. Ruswanto cenderung membicarakan aspek humanisme dan spiritualitas manusia dalam gerak karyanya. Psikolog Sigmund Freud menyatakan sejarah masa lalu dapat dianggap sebagai residu pengalaman masa kecil, ikut memberi andil dalam membentuk wujud ide dan kepribadian kolektif kita hari ini sebagai bangsa. Sajian 18 karya dari perupa CENGLU ini bisa menjadi oase kesadaran bersama dalam memaknai serpihan-serpihan tragedi sosial, kegalauan, keegoisan yang bergelimpangan di sekitar kita. Pernyataan diri mereka yang tersublimasi melalui kekuatan rasa ini bisa menjadi penunjuk jalan terang untuk lebih lanjut menyibak perasaan-perasaan ketidakberdayaan, kesedihan, dan sikap pesimistis keseharian. Ya, menjadi Perupa muda haruslah galau, resah, marah, meradang namun melalui jalan kreatif yang mencerahkan, memotivasi, dan menjadi jalan kehidupan. Bertiga mereka bergandengan hasrat, bertiga mereka berboncengan dengan estetika motor seni patung, lukis, grafis dan bertiga mereka membuka kesadaran kita yang mulai tertutupi rasa sangsi, skeptis dan egosentris.

igede-arya-sucitra

Penulis
I Gede Arya Sucitra